Polusi Udara dan Penanggulangannya dengan RTH (Contoh kasus Urban Heat Island Semarang)

Pendahuluan

Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapatberasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebutmerupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran udara juga dapatdisebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak daripencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatanmanusia.
Sedankan pencemaran sendirimenurut UU no 32 tahun 2009 adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Sedangkanpencemaran udara sendiri menurut PP no. 41 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara didefinisikan sebagai berikut, Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.
Dan menurut Soemarwoto, pencemaran bisa terjadi dalam sekup berikut : tanah, air tanah, badan air atau sungai, udara dan bahkan menurutnya terputusnya rantai organisme dari suatu tatanan lingkungan hidup yang berakibat pada kerusakan ekosistem juga termsuk dari kategori dari pencemaran (Soemarwoto, 1991)
Pencemaran yang terjadi secara akut dan tidak dibarengi tindakan nyata untuk menanggulanginya akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup. Sedangkan pencemaran udaraadalah salah satu sub sistim dari aneka ragam pencemar yang perlu menjadi perhatian bersama untuk mencegahnya atau paling tidak menimalisirnya. Karena udara yang sehat bebas dari polusi akan membawa kenyamanan penghuninya lebih-lebih bagi kesehatan.
Diantara penyebab dari terjadinya pencemaran udara adalah aktifitas manusia yang salah satunya berupa kegiatan transportasi, Industri dandemikian juga dengan kegiatan pembakaran yang dilakukan secara koorporasi (perusahaan) atau individu maupaun kelompok masyrakat semisal merokok, membakar sampah dan sebagainnya.
Akibat yang timbul dari aktifitas tersebut adalah udara yang mengandung sekitar 78% Nitrogen, 20 % oksigen, 0,93 % argon, 0,03 karbon dioksida(CO2) dan sisanya Neon (Ne), helium (He), Metan (CH4) dan Hidrogen (H2) sebagai asupan di bumi, maka kualitas udaranya semakin menurun karena aktifitas transportasi dan industrialisasi.

Pencemaran dan Aktifitas Manusia
Dengan membanjirnya aneka ragam alat transportasi serta aktifitas pembakaran di perkotaan, mengakibatkan polusi udara timbul dan akan semakin parah jika tidak ada langkah pencegahan untuk mengatasinya. Jika hal ini terus berlanjut diyakini lingkungan hidup sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia akan semakin rusak. Dan generasi mendatang pun akan hanya menuai kualitas lingkungan yang rendah dan berakibat pada penurunan kualitas hidup baik dari segi kesehatan atau ekonomi.
Membludaknya alat transportasi di perkotaan memicu banyaknya asap kendaraan yang mengakibatkan pada pencemaran udara, lebih-lebih masih banyaknya mobil-mobil tua yang bergentayangan di jalan-jalan perkotaan dan mengeluarkan asap hitam yang tebal.
Aktifitas pembakaran dari kegiatan industry yang juga menyumbang cukup banyak terhadap pencemaran udara dengan ditandai adanya cerobong asap yang menjulang tinggi. Dalam sekala yang mini perokok kelihatanyya juga menjadi pelaku pembakaran nomor wahid, di ikuti dengan pembakaran obat anti nyamuk, pembakaran sampah dapur yang semuanya tentunya berdampak pada pencemaran udara.
Dari fakta yang ada, bahwa kebanyakan pencemaran udara terjadi karena asap kendaraan dan aktifitas pembakaran. Yang berujung pada semakin panasnya udara, curah hujan yang tidak mengikuti kaedah musim dan mewabahnya peradangan atau infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Hal-hal tersebut menjadi indikasi bahwa udara yang ada disekitar kita sudah tercemar oleh aneka ragam polutan.(Kliwon Suyoto:2010)

Dampak Polusi Udara
Dampak dari polusi udara memberikan pengaruh yang sangat merugikan bagi kesehatan manusia, bukan saja dengan terhisap langsung, tetapi juga dengan cara-cara pemaparan lainnya seperti: meminum air yang terkontaminasi dan melalui kulit.
Umumnya sebagian besar zat-zat polutan udara ini langsung mempengaruhi sistem pernafasan dan pembuluh darah. Meningginya angka kesakitan dan kematian dan adanya gangguan fungsi paru-paru dikaitkan dengan kenaikan konsentrasi zat SO2, SPM, NO2 dan O3 yang juga mempengaruhi sistem pernafasan.
Pemaparan yang akut dapat menyebabkan radang paru sehingga respon paru kurang permeabel, fungsi pau menjadi berkurang dan menghambat jalan udara. Ozon dapat mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan dan penyebab sakit kepala. CO beraffianitas tinggi terhadap Hb sehingga mampu mengganti O2 dalam darah yang menuju ke sistem pembuluh darah dan jantung serta persarafan.
Pb menghambat sistem pembentukan Hb dalam darah merah, sumsum tulang, merusak fungsi hati dan ginjal dan penyebab kerusakan syaraf. Pengaruh-pengaruh langsung dari polusi udara terhadap kesehatan manusia tergantung pada; intensitas dan lamanya pemaparan, juga status kesehatan penduduk yang terpapar (Yusniwarti Yusad : 2003)

Melihat Polusi udara di Semarang
Menurut direktur Walhi Jateng Arif Yazen semarang adalah salah satu kota dengan kondisi udara yang sudah melebihi ambang batas dan baku mutu yang telah ditetapkan. Sesuai dengan kadar baku mutu di kota semarang idealnya adalah bernilai 30.000 namun dalam realitanya mencapau 32.240,51. Sementara nitrogen oksida (NO2) baku mutunya 400, namun nilainya mencapai 1.489. tentunya hal ini sangat disayangkan sekali dan angka tersbeut juga menunjukan bahwa semarang udaranya sudah kotor dan tercemar . (Suara Merdeka 07 Juni 2009)
Kotornya udara Semarang dibenarkan Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Udara, Limbah Padat dan Bahan Berbahaya serta Beracun, BPLH Jawa Tengah, Adiyanto. Hal tersebut merujuk hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan di kawasan padat Semarang.Yaitu Pada kawasan padat di Jalan Kali Grawe, lalu Terminal Terboyo dan menunjukkan angka 299, 8 per gram nano kubik. Padahal ambang batas normalnya adalah 230. Ambang batas itu sesuai Kepgub no 8 tahun 2001 terkait kualitas udara di Provinsi Jawa Tengah.
Dan Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, Semarang berada di posisi keempat dari 16 kota yang memiliki kandungan hidrokarbon (HC) tertinggi. Kandungan HC mencapai 216,63 mikrogram per meter kubik, melebihi batas baku mutu 150 mikrogram per meter kubik
Itu artinya kualitas udara di Semarang kotor. Sehingga perlu adanya tindakan nyata dari pemerintah dan dinas terkai untuk menanggulangi dari buruknya kualitas udara di semarang dan salah satunya adalah optimalisasi dari RTH.

Ruang Terbuka Hijau di Semarang
Ruang Terbuka Hijau adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang difungsikan untuk perlindungan habitat, sarana lingkungan/kota, pengamanan jaringan prasarana dan budidaya pertanian.
Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi, selain sering mengubah konfigurasi alami lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya.
Kedua hal ini umumnya merugikan keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Di lain pihak, kemajuan alat dan pertambahan jalur transportasi dan sistem utilitas, sebagai bagian dari peningkatan kesejahteraan warga kota, juga telah menambah jumlah bahan pencemar dan telah menimbulkan berbagai ketidak nyamanan di lingkungan perkotaan. Untuk mengatasi kondisi lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan RTH sebagai suatu teknik bioengineering dan bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman, sehat, dan menyamankan.
Fungsi dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah untuk meningkatkan kualitas atmosfer, menunjang kelestarian air dan tanah, RTH di tengah-tengah ekosistem perkotaan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas lansekap kota. Ruang Terbuka Hijau, baik publik maupun privat, memiliki fungsi utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi arsitektural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan keberlanjutan kota.
RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya penyangga kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk keindahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luasan RTH ditetapkan minimal 30 persen dari total luas wilayah. Dari 16 kecamatan yang terdapat di Kota Semarang, terdapat delapan kecamatan yang belum memenuhi ketentuan RTH, antara lain Gajah Mungkur (7,48 persen), Candisari (6,26 persen), Pedurungan (24,18 persen), Gayamsari (19,21 persen), Semarang Timur (9,54 persen), Semarang Utara (9,47 persen), Semarang Tengah (11,9 persen), dan Semarang Barat (27,9 persen).
Namun data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menunjukkan bahwa Kota Semarang memiliki ruang terbuka hijau (RTH) pada tahun 1994 sebesar 65,008 persen berkurang menjadi 61,74 persen (2002), dan turun lagi menjadi 52,29 persen (2006). Kondisi tersebut disebabkan pesatnya pembangunan fisik akibat pertumbuhan penduduk.
Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang telah merancang Peraturan Daerah tentang RTH yang memuat sistem zonasi yang membatasi pembangunan dan mempertahankan RTH di perkotaan. Namun, hingga kini Perda tersebut masih belum disetujui oleh Pemprov Jateng. Pemerintah selaku stakeholder seharusnya dapat berpikir jauh ke depan tentang dampak alih fungsi lahan secara tidak terkendali.

Urban Heat Island Semarang
Urban Heat Island (UHI) adalah kecenderungan di mana sebuah kota temperaturnya lebih hangat atau lebih panas dibanding rural area di sekitarnya, dengan perbedaan temperatur pada malam hari lebih tinggi daripada siang hari. UHI ini disebabkan oleh panas matahari yang disimpan oleh “impervious engineered surfaces” (bangunan dengan bahan beton, aspal, atap berwarna gelap, dll) pada siang hari, dan panas tersebut dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Digunakan istilah “heat island” karena udara perkotaan yang lebih panas terletak di antara lautan udara pedesaan yang lebih dingin.

Gambar 1. Urban Heat Island

Penyebab dari fenomena UHI adalah kurangnya vegetasi sebagai penutup lahan dan rendahnya kelembaban tanah. Sesuai dengan fitrahnya, tanaman pada siang hari menyerap panas matahari untuk proses fotosintesis kemudian menguapkannya kembali ke atmosfer dalam proses evapotranspirasi yang mempunyai efek pendinginan.
Proses evapotranspirasi ini ibarat manusia yang mengeluarkan keringat. Berdasarkan penelitian di USA, tanaman setinggi 30 kaki akan menghasilkan “keringat” melalui evapotranspirasi sebanyak 40 gallon per hari. Mekanisme yang memberikan efek pendinginan ini akan berubah jika lahan yang berisi tumbuhan termodifikasi menjadi taman beton dan aspal alias perumahan dan jalan raya atau infrastruktur kedap air lainnya. Taman beton dan aspal ini akan menyerap panas dan menahannya, sehingga akan membuat temperatur di sekelilingnya tetap panas karena permukaan lahan menjadi kedap air dan kering.
Faktor penyebab UHI lainnya adalah limbah panas yang dihasilkan oleh penggunaan energi, baik dari kendaraan bermotor, industri, dan penggunaan AC. Ketika populasi kota semakin bertambah akibat urbanisasi, maka kebutuhan akan perumahan semakin meningkat.
Perubahan ruang terbuka hijau menjadi pemukiman pun semakin meningkat, penggunaan energi juga semakin meningkat. Demikian seterusnya, sehingga semakin banyak panas yang diserap oleh perkotaan. Penyebab lain dari UHI adalah akibat dari efek geometrik. Gedung-gedung tinggi yang biasanya banyak dijumpai di perkotaan menyediakan permukaan ganda untuk memantulkan dan menyerap sinar matahari, sehingga meningkatkan efisiensi pemanasan kota. Gedung-gedung yang tinggi juga menghalangi angin yang sebenarnya membantu proses pendinginan.
Dampak dari UHI adalah adalah meningkatnya konsumsi energi, meningkatnya emisi gas rumah kaca, meningkatnya masalah kesehatan, dan memberikan masalah baru di sektor sumberdaya air.

Gambar 2. Sketsa fenomena UHI

Gambar 3.1 UHI Semarang 1994

Gambar 3.2 UHI Semarang 2002

Gambar 3.1 dan 3.2 memperlihatkan Urban Heat Island Semarang pada tahun 1994 dan 2002. Dari pengamatan secara spasial terlihat bahwa ada perluasan UHI. Analisa kuantiatif dengan statistik terhitung adanya perluasan UHI (daerah dengan suhu tinggi 30-35 0C yang terletak pada kawasan terbangun yang terdiri dari pemukiman dan industri di Semarang pertahun kira-kira 12174 ha atau 8,4%.
Meluasnya Heat Island akan menyebabkan peningkatan ketidaknyamanan kehidupan manusia, sehingga manusia membutuhkan pendingin seperti AC, kipas angin yang berdampak pemborosan energi listrik dan polusi, dan menyebabkan Green house effect.
Pemakaian energi listrik akan meningkatka nemisi sulfur dioxide, carbon monoxide, nitrous oxides, carbon dioxide, yang dikenal sebagai gas rumah kaca yang akan berkontribusi pada pemansan global dan perubahan iklim. Heat island pada musim kemarau akan mempercepat pembentukan kabut yang berbahaya, seprti prekusor ozon yaitu nitrous oxides (NOx) and volatile organic compounds (VOCs) yang bereaksi secara fotokimia menghasilkan ozon di permukaan.
Solusi untuk masalah ini adalah dengan memperluas RTH, menggunakan bahan bakar ramah lingkungan, menggalakkan penanaman pohon, menghidupkan transportasi massal yang aman dan nyaman agar menurunkan tingkat kemacetan di jalan raya yang menyebabkan polusi udara.
Karena dengan adanya RTH tersebut mampu untuk menyerap zat-zat polutan untuk meningkatkan kualitas dari udara yang sudah tercemar. Kampanye akan pentingnya menanam pohon di tiap pekarangan rumah juga perlu di galakan, one man one tree sehingga paling tidak bisa membantu untuk mengurangi kadar polusi udara di lingkungan sekitar. Wassalam

Referenesi
Kementrian Lingkungan Hidup.2010.Kumpulan Karya Tulis Pilihan 2010, development for life “menuju pembangunan berkelanjutan” Media Indonesia, Jakarta.
Lab. PerencanaanLanskap IPB, 2005,Ruang Terbuka Hijau (RTH) Wilayah Kota.ProsidingLokakaryaPengembanganSistem RTH di Perkotaan, Jakarta.
Somarwoto,1991,Indonesia dalam kencah isu lingkungan global, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
Tursilowati, Laras. 2005. Urban Heat Island danKontribusinyapadaPerubahanIklimdanHubungannyadenganPerubahanLahan. Prosiding Seminar NasionalPemanasan Global danPerubahan Global, Jakarta
Yusniwarti Yusad, 2003 ”Polusi Udara di Kota-Kota Besar Dunia” Universitas Sumatra Utara.

UU no. 32 2009
PP no.41 1999
Koran
SuaraMerdeka